Spekulasi mengenai kekuasaan Presiden Tiongkok Xi Jinping semakin meningkat dalam beberapa bulan terakhir, terutama menjelang peristiwa politik penting di negara tersebut. Rumor di kalangan orang dalam menunjukkan bahwa Xi Jinping mungkin telah kehilangan pengaruh nyata atau kesehatannya telah memburuk secara signifikan, sehingga meningkatkan kemungkinan bahwa seorang doppelgänger telah menggantikan posisinya di depan umum. Beberapa bahkan menerima gagasan untuk membentuk koalisi di antara para pejabat senior militer dan reformis politik liberal untuk menantang atau menggantikannya.
Rumor seperti ini biasa terjadi di rezim otoriter, terutama pada masa transisi politik. Dengan diadakannya sidang pleno keempat Partai Komunis Tiongkok yang baru-baru ini diadakan, para pengamat tetap menyadari bahwa keputusan yang diambil akan menentukan arah pembangunan Tiongkok di masa mendatang. Klaim yang berkembang sering kali mengarah pada sekelompok rahasia pejabat senior pemerintah yang memiliki koneksi mendalam dan latar belakang penting di partai tersebut yang secara teoritis dapat menantang kepemimpinan Xi Jinping. Banyak yang berharap tokoh-tokoh ini dapat melakukan intervensi untuk menjauhkan negara ini dari kekuasaan Xi Jinping yang semakin tersentralisasi, yang mengingatkan kita pada intervensi Deng Xiaoping pada masa-masa penuh gejolak di akhir abad ke-20.
Secara historis, politisi senior telah memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan partai. Setelah kematian Mao Zedong, muncul tokoh-tokoh berpengaruh seperti Deng Xiaoping yang menggunakan pengalaman revolusioner mereka untuk membentuk kebijakan dan mempengaruhi perubahan kepemimpinan. Mereka menciptakan struktur yang memungkinkan mereka berkonsultasi dan memberi nasihat mengenai isu-isu penting dan bahkan memberikan pengaruh melalui pernyataan publik yang strategis.
Namun, di bawah kepemimpinan Xi, situasinya berubah drastis. Dia secara sistematis menghancurkan cara-cara tradisional kekuasaan yang pernah dianut oleh para tetua. Para tetua partai saat ini tidak memiliki legitimasi historis dan koneksi militer seperti para pendahulu mereka. Di bawah pemerintahan Xi Jinping, Komisi Permusyawaratan Pusat, yang pernah memfasilitasi partisipasi pejabat senior pemerintah dalam pengambilan keputusan partai, telah dibubarkan. Selain itu, melalui upaya pemberantasan korupsi secara besar-besaran, Xi Jinping berupaya membongkar jaringan informal yang sebelumnya memungkinkan orang tua untuk memberikan pengaruh.
Meskipun para tetua tetap hadir dalam lingkungan resmi, kemampuan mereka untuk mempengaruhi wacana politik sangat ditekan. Konsolidasi kendali yang dilakukan Xi Jinping berarti bahwa setiap kritik atau perbedaan pendapat dari anggota partai tidak akan mendapat tanggapan, sehingga menciptakan dikotomi kekuasaan yang mengesampingkan calon pesaing. Pergeseran ini mempunyai implikasi serius terhadap pengambilan keputusan di dalam partai dan menimbulkan risiko terhadap stabilitas pemerintahan.
Ketika generasi revolusioner yang pernah berkuasa memudar dari kancah politik, tidak ada penerus yang memiliki kewenangan serupa untuk mengambil alih peran mereka. Tidak adanya keseimbangan ini mengarah pada gaya manajemen yang lebih otoriter, di mana para pemimpin senior beroperasi dalam proses pengambilan keputusan yang terisolasi dan membatasi perdebatan eksternal.
Transformasi ini terlihat khususnya dalam penanganan Tiongkok terhadap tantangan-tantangan besar seperti pandemi COVID-19, yang telah mengungkap kerentanan dalam model kepemimpinan Xi Jinping. Kurangnya keragaman perspektif selama krisis berpotensi memperburuk masalah dibandingkan memitigasinya melalui diskusi yang lebih luas di antara para pemimpin veteran.
Dalam kondisi saat ini, metode pemerintahan lain, seperti birokrasi kelembagaan yang lebih kuat, dapat berfungsi sebagai penghambat kekuasaan Xi, meskipun metode tersebut tidak memiliki kecepatan dan efisiensi seperti yang pernah dilakukan oleh negarawan senior. Kekhawatiran mengenai mempertahankan kekuasaan pribadi di kalangan elit mungkin masih berkontribusi pada pengambilan kebijakan yang hati-hati, dan tekanan eksternal dari faktor-faktor seperti hubungan AS-Tiongkok juga berperan dalam membentuk strategi Xi Jinping.
Namun, hubungan menyeluruh antara dinamika kekuasaan dan kekuasaan individu dalam partai kini lebih condong ke arah sentralisasi, sehingga meningkatkan risiko kegagalan tata kelola. Sistem yang ada saat ini bisa dibilang lebih rapuh karena tidak adanya pemeriksaan informal seperti yang terjadi pada pemerintahan sebelumnya.
Ketika Tiongkok merencanakan masa depannya, masih ada harapan bahwa beberapa bentuk checks and balances—walaupun tidak sempurna—dapat muncul untuk memoderasi otoritas Xi dan mencegah eskalasi krisis. Masih harus dilihat apakah hal ini cukup untuk menjaga stabilitas dalam lanskap geopolitik yang berubah dengan cepat.