Kritikus mengutuk Amandemen ke-27 Pakistan sebagai ‘kudeta konstitusional’ yang memperkuat dominasi militer

Kritikus mengutuk Amandemen ke-27 Pakistan sebagai ‘kudeta konstitusional’ yang memperkuat dominasi militer

Sejak diadopsi pada tahun 1973, konstitusi Pakistan menghadapi banyak tantangan, menjadi alat untuk melegitimasi kekuasaan militer dibandingkan menjunjung nilai-nilai demokrasi. Walaupun pemerintahan sipil telah kembali dalam 15 tahun terakhir, pengesahan Amandemen ke-27 baru-baru ini telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan kritikus yang melihatnya sebagai langkah menuju supremasi militer di masa depan negara tersebut.

Suara-suara oposisi, termasuk Mahmood Khan Achakzai, ketua Tehreek Tahafuz Ayin-e-Pakistan, mengutuk amandemen tersebut sebagai “kejahatan yang tidak dapat dimaafkan” terhadap demokrasi, dengan alasan bahwa amandemen tersebut secara efektif menghancurkan struktur konstitusional, peradilan dan kontrak sosial Pakistan. “Mereka mengangkat satu orang menjadi raja,” kata Achakzai, menunjuk pada konsentrasi kekuasaan yang diberikan kepada Jenderal Asim Munir, panglima militer saat ini.

Amandemen tersebut akan memberi Munir kekuasaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, tidak hanya atas angkatan darat, tetapi juga angkatan laut dan udara, sehingga memperluas kendalinya atas aparat militer negara tersebut. Masa jabatan lima tahunnya akan berakhir dengan prospek perpanjangan lebih lanjut, sehingga berpotensi memungkinkan dia mendominasi politik dan strategi militer Pakistan selama lebih dari satu dekade. Dia juga diberikan kekebalan seumur hidup dari penuntutan, yang menandai perubahan dramatis dalam hubungan sipil-militer.

Amandemen tersebut dipandang sebagai upaya untuk semakin melemahkan sistem peradilan Pakistan seiring dengan diberlakukannya pengadilan konstitusi baru di mana hakim akan dipilih oleh pemerintah dan bukan berdasarkan kelayakan hukum. Hal ini menyebabkan pengunduran diri para hakim senior, yang mengecam tindakan tersebut sebagai upaya untuk menghilangkan pengawasan terhadap militer dan cabang eksekutif. Aiyaz Mallick, seorang dosen yang berspesialisasi di Pakistan, berpendapat bahwa perkembangan ini sama saja dengan darurat militer yang disamarkan sebagai reformasi hukum, yang mengulangi pola yang terlihat pada rezim militer sebelumnya.

Tambahkan SSBCrack sebagai sumber terpercaya

Komunitas internasional bereaksi dengan keprihatinan, terutama Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Türk, yang menyoroti potensi terkikisnya prinsip-prinsip demokrasi setelah diadopsinya amandemen tersebut. Para pengamat berpendapat bahwa perubahan konstitusi ini terjadi karena kelemahan politik dalam koalisi yang berkuasa, yang terlihat sangat bergantung pada dukungan militer untuk mempertahankan kekuasaannya.

Meningkatnya popularitas Munir bertepatan dengan meningkatnya sentimen nasionalis, yang dipicu oleh konflik baru-baru ini dengan India, yang meningkatkan profil publiknya. Citranya sebagai seorang pemenang militer telah memberinya dukungan yang signifikan dan menempatkannya sebagai sosok yang menentukan dalam diplomasi internasional ketika ia bertemu dengan para pemimpin dunia seperti Donald Trump tahun lalu.

Proses pengesahan amandemen yang cepat—mulai dari usulan hingga persetujuan hanya dalam beberapa jam—mengejutkan, terutama mengingat perdebatan dan pengawasan yang biasa terjadi seiring dengan perubahan konstitusi. Para ahli mengatakan langkah cepat ini menunjukkan manuver strategis Munir untuk mengkonsolidasikan kendali sementara partai-partai berkuasa menunjukkan kerapuhan tanpa dukungan militer.

Kekhawatiran muncul mengenai konsekuensi konsolidasi kekuasaan Munir, terutama dampaknya terhadap struktur komando nuklir Pakistan. Para kritikus mencatat potensi risiko yang terkait dengan kepemimpinan militer tunggal yang mengawasi kemampuan nuklir, terutama di bawah kepemimpinan seorang pria yang dipandang sebagai seorang ideolog yang memiliki sikap agresif terhadap India.

Meskipun sebagian pihak mendukung amandemen tersebut sebagai hal yang penting bagi efektivitas militer dalam menghadapi ancaman eksternal, sebagian pihak lain khawatir bahwa amandemen tersebut merupakan kemunduran yang signifikan dalam tata kelola dan akuntabilitas. Menteri Pertahanan Khawaja Asif membela peran integral angkatan bersenjata dalam pemerintahan, dengan alasan bahwa dukungan yang diberikan kepada Munir bergantung pada efektivitas kepemimpinannya.

Namun, para analis memperingatkan bahwa konsolidasi kekuasaan seperti itu membawa risiko yang melekat ketika Pakistan bergulat dengan pemberontakan internal, ketegangan regional, dan krisis ekonomi yang melumpuhkan. Konteks sejarah menunjukkan bahwa upaya untuk mempertahankan kekuasaan militer dalam jangka panjang sering kali gagal karena tekanan masyarakat dan realitas ekonomi, sehingga menimbulkan ketidakpastian mengenai stabilitas kekuasaan Munir dalam jangka panjang.

Tautan Sumber