Strategi keamanan nasional baru-baru ini yang diungkapkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump telah memicu kontroversi, terutama di antara sekutu-sekutu Eropa, karena mereka dengan tajam mengkritik pendekatan mereka terhadap migrasi dan kebebasan berpendapat, namun jelas-jelas mendukung kepentingan AS. Dokumen yang dikeluarkan oleh Gedung Putih menggambarkan banyak negara Eropa sebagai negara yang lemah, dan mengisyaratkan masa depan dystopian yang mencakup “prospek penghapusan peradaban.”
Strategi ini konsisten dengan doktrin “America First” Trump, yang menempatkan kepentingan Amerika di atas kemitraan internasional dan non-intervensi. Laporan tersebut berpendapat bahwa posisi Amerika terkait langsung dengan apa yang menguntungkan negaranya, dan menyoroti perubahan signifikan dari posisi diplomatik tradisional yang menjadi ciri kebijakan luar negeri AS.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa diperburuk oleh kritik terhadap strategi tersebut. Dokumen tersebut mengungkapkan keprihatinan mengenai stagnasi ekonomi di Eropa, yang diperburuk oleh masalah-masalah seperti penurunan angka kelahiran, kebijakan imigrasi yang rumit, dan persepsi sensor terhadap ekspresi politik. Hal ini menunjukkan bahwa jika tidak terjadi perubahan yang signifikan, negara-negara Eropa akan kehilangan kemampuan mereka untuk menjadi sekutu yang dapat diandalkan dalam mengatasi tantangan-tantangan dalam negeri.
Mengingat konflik yang sedang berlangsung di Ukraina, strategi ini menekankan keinginan untuk melakukan negosiasi untuk mengakhiri perang dengan Rusia, beralih dari memandang Moskow sebagai negara paria, melainkan membina hubungan yang lebih kooperatif. Menurut dokumen tersebut, membangun stabilitas strategis dengan Rusia merupakan kepentingan vital Amerika.
Selain itu, strategi Trump berencana untuk memperluas kehadiran militernya di Belahan Barat, dengan menerapkan Doktrin Monroe sekaligus memperkenalkan apa yang disebut “Trump Corollary.” Doktrin ini awalnya dimaksudkan untuk mencegah intervensi Eropa di Amerika dan secara historis membenarkan intervensi militer AS di Amerika Latin. Strategi yang ada saat ini mencerminkan komitmen terhadap pendekatan militer yang lebih agresif, termasuk operasi melawan penyelundup narkoba di perairan Karibia dan Pasifik, serta potensi upaya di Venezuela untuk menekan pemerintahnya.
Secara keseluruhan, strategi keamanan nasional yang baru dirumuskan ini menempatkan Amerika Serikat sebagai pihak yang menegaskan dominasinya di berbagai bidang sekaligus meningkatkan kekhawatiran mengenai keandalan dan arah sekutu lamanya di Eropa.