Angkatan Darat AS siap untuk meningkatkan peluncur granat MK19 dengan mengembangkan amunisi baru yang dirancang khusus untuk memerangi sistem pesawat tak berawak kecil (UAV). Inisiatif ini merupakan bagian dari tren yang lebih luas di kalangan militer Barat yang mencerminkan pembelajaran dari konflik yang sedang berlangsung di Ukraina, di mana strategi penanggulangan drone menjadi semakin relevan.
Dalam beberapa hari mendatang, Angkatan Darat berencana untuk merilis inisiatif utama yang bertujuan untuk memperkenalkan kemampuan anti-UAV 40mm. Proyek ini bertujuan untuk mengintegrasikan teknologi fuze sentuh canggih ke dalam putaran semburan udara yang dapat diprogram untuk MK19. Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan sistem komprehensif yang dapat secara efektif mengidentifikasi dan menetralisir ancaman yang ditimbulkan oleh drone kecil, serta memperluas kemampuan tempur.
Teknologi sensor fuze yang inovatif akan mencakup sensor yang mampu mendeteksi dan menilai kedekatan target. Fitur ini memungkinkan amunisi diledakkan pada jarak optimal, sehingga secara signifikan meningkatkan efektivitas setiap tembakan sekaligus menghilangkan kebutuhan akan kontak langsung dengan target. Permintaan Angkatan Darat menyoroti perlunya sistem terintegrasi penuh yang mencakup kemampuan deteksi, pelacakan, penargetan dan keterlibatan sambil memastikan kompatibilitas penuh dengan platform senjata, sistem pengendalian tembakan, dan stasiun senjata jarak jauh yang ada.
Peluncur granat MK19, awalnya dikembangkan selama Perang Vietnam, adalah senjata otomatis yang menembakkan granat 40 mm dengan kecepatan siklik 325 hingga 375 putaran per menit. Jarak sasaran titik efektifnya sekitar 1.500 meter dan jangkauan maksimumnya mencapai 2.212 meter, memberikan daya tembak yang signifikan di medan perang.
MK19, yang dilengkapi dengan kartrid anti-drone, diharapkan dapat mencapai kemampuan serupa dengan yang ditawarkan oleh Advanced Precision Kill Weapon System, yang menggunakan panduan L3Harris dan paket bahan bakar untuk mengubah rudal Hydra 70 menjadi solusi yang sangat efektif untuk melawan ancaman UAV.
Proses penawaran formal dijadwalkan akan dimulai pada atau setelah tanggal 25 November, yang akan memulai tahap seleksi bagi penawar yang berminat. Mereka yang berhasil pada tahap ini akan mengajukan proposalnya ke komisi pemerintah dengan kemungkinan memasuki masa pelaksanaan 48 bulan. Setelah evaluasi menyeluruh terhadap prototipe tersebut, Angkatan Darat dapat memberikan penghargaan non-kompetitif untuk lebih memperkuat kemampuan kontra-dronenya.