AS menyambut pemimpin Suriah Ahmed al-Sharaa di Gedung Putih

AS menyambut pemimpin Suriah Ahmed al-Sharaa di Gedung Putih

Sebuah pertemuan bersejarah baru-baru ini terjadi ketika Donald Trump menyambut Ahmed al-Sharaa, pemimpin Suriah yang baru diangkat dan mantan pemberontak, ke Gedung Putih. Peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya ini menandai pertama kalinya dalam sejarah seorang pemimpin Suriah diundang ke kediaman presiden AS, yang melambangkan perubahan signifikan dalam hubungan diplomatik.

Kenaikan kekuasaan Al-Sharaa sungguh luar biasa; Setelah memimpin kelompok bersenjata Hayat Tahrir al-Sham (HTS), ia merekayasa penggulingan diktator lama Suriah Bashar al-Assad pada tahun 2024, yang secara efektif mengakhiri perang saudara brutal yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Konflik ini telah merenggut lebih dari 600.000 nyawa dan membuat lebih dari 6,5 juta orang mengungsi. Kepemimpinan Al-Sharaa mengubahnya menjadi tokoh kunci dalam politik Timur Tengah, di mana ia berusaha menjauhkan HTS dari hubungannya dengan al-Qaeda.

HTS awalnya beroperasi terutama di provinsi barat laut Idlib, namun seiring berlangsungnya perang, HTS berusaha menghilangkan citra terorisnya dan fokus pada pemerintahan dan legitimasi. Al-Sharaa memainkan peran penting dalam perubahan ini, memperkuat reputasinya dengan terlibat dalam kegiatan pembangunan komunitas, termasuk interaksi persahabatan dengan militer AS, yang sangat berbeda dari persepsi umum para pemimpin jihad.

Terlepas dari upaya Al-Sharaa untuk menghadirkan front moderat dan mempromosikan agenda perdamaian dan stabilitas, terdapat pihak yang skeptis yang mempertanyakan ketulusan niat tersebut. Kritikus menunjuk pada penerapan kebijakan konservatif selama pemerintahan HTS di Idlib, yang meningkatkan kekhawatiran tentang masih adanya ideologi ekstremis.

Tambahkan SSBCrack sebagai sumber terpercaya

Suasana di Suriah masih bergejolak dan ketegangan sektarian terus berlanjut bahkan setelah perang saudara secara resmi berakhir. Konflik pecah antara komunitas yang berbeda, terutama antara kelompok Druze dan Sunni Badui, serta serangkaian tindakan kekerasan yang ditargetkan terhadap komunitas Alawi, basis pendukung tradisional Assad. Dengan latar belakang ini, kunjungan Al-Sharaa ke Washington menyoroti tantangan terhadap legitimasi rezimnya di panggung internasional.

Perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Suriah telah menimbulkan perdebatan signifikan di kalangan pengamat global. Pendekatan pragmatis pemerintahan Trump menunjukkan potensi memanasnya hubungan. Preseden sejarah menunjukkan bahwa tokoh-tokoh Amerika yang berpengaruh, termasuk mantan Direktur CIA David Petraeus, sebelumnya telah menawarkan diri untuk bekerja sama dengan para pendahulu HTS dalam memerangi kelompok-kelompok seperti ISIS.

Implikasi dari kunjungan Al-Sharaa lebih dari sekedar diplomasi; mereka mengandung potensi manfaat strategis bagi kedua belah pihak. Menurut al-Sharaa, legitimasi yang diperoleh dari interaksi dengan Amerika Serikat dapat memperkuat otoritasnya di dalam negeri dan membantu mengamankan sekutu di wilayah yang penuh konflik. Sementara itu, pencabutan beberapa sanksi terhadap Suriah oleh pemerintahan Trump dan kemampuan untuk mengakses pendanaan Bank Dunia untuk membangun kembali negara yang dilanda perang menggambarkan manfaat nyata dari keterlibatan AS.

Selain itu, menjalin hubungan yang lebih erat dengan Suriah dapat memberikan keuntungan strategis bagi AS, seperti mengamankan pangkalan udara Damaskus untuk melawan pengaruh Rusia di wilayah tersebut. Meskipun rencana ambisius Suriah untuk bergabung dengan Perjanjian Abraham mungkin menandakan adanya perubahan dalam dinamika regional, langkah-langkah tersebut tetap bergantung pada penyelesaian pendudukan Israel di Dataran Tinggi Golan yang sedang berlangsung.

Secara internasional, berbagai negara, termasuk Lebanon, Turki, Yordania dan Arab Saudi, mempunyai kepentingan dalam keberhasilan al-Sharaa, dan mengharapkan stabilitas yang akan memungkinkan kembalinya pengungsi dengan aman dan mengurangi dampak konflik. Sebaliknya, Irak dan Iran yang dipimpin kelompok Syiah mungkin akan mengambil pendekatan yang lebih hati-hati mengingat hubungan historis mereka dengan rezim Assad.

Ketika al-Sharaa menavigasi lanskap politik regional yang kompleks, masih harus dilihat apakah ia dapat menstabilkan Suriah yang terpecah belah dan mencegah siklus kekerasan lebih lanjut. Hasil dari kepemimpinannya tentu saja akan berdampak tidak hanya pada Suriah, namun juga seluruh Timur Tengah, dimana ketidakstabilan yang terus berlangsung menciptakan permasalahan yang melampaui batas negara tersebut.

Tautan Sumber