Bagaimana AI memengaruhi dinamika tim dan apa saja yang belum dimiliki organisasi
Getty
AI mengubah cara orang berkomunikasi dan berkolaborasi lebih cepat dari yang disadari kebanyakan pemimpin. Hal ini mengubah cara tim membaca niat satu sama lain, cara mereka mendistribusikan pekerjaan, dan cara mereka berkoordinasi antar zona waktu. Ketika saya berbicara dengan para pemimpin tentang masa depan dunia kerja, mereka sering kali berfokus pada peningkatan produktivitas atau efisiensi. Apa yang mereka lewatkan adalah perubahan perilaku yang lebih mendalam. Orang-orang bereaksi terhadap AI pada tingkat emosional dan interpersonal, dan reaksi ini memengaruhi kepercayaan, kejelasan, dan cara tim mengambil keputusan. Laju kemajuan teknologi lebih cepat dibandingkan laju interpretasi manusia, dan kesenjangan ini sudah berdampak pada kualitas percakapan di tempat kerja.
Bagaimana AI mengubah cara orang menafsirkan satu sama lain?
Getty
Bagaimana AI mengubah cara orang menafsirkan satu sama lain?
AI mempengaruhi interpretasi jauh sebelum manusia menyadarinya. Ketika sebuah pesan dibuat menggunakan suatu alat, nadanya sering kali tampak lebih canggih daripada apa yang dikatakan pengirimnya di kehidupan nyata. Nada canggih ini bisa menciptakan jarak. Anggota tim mungkin bertanya-tanya apakah pesan tersebut mencerminkan pemikiran nyata orang tersebut atau apakah pesan tersebut dihasilkan oleh suatu alat. Penelitian yang dilakukan oleh psikolog sosial menunjukkan bahwa orang sangat bergantung pada keakraban ketika menilai niat. Ketika komunikasi menjauh dari suara alami seseorang, tim kehilangan isyarat bawah sadar yang menandakan kepercayaan. Hal ini penting karena keamanan psikologis dibangun di atas momen-momen kecil yang berulang ketika orang merasa memahami cara berpikir seseorang. Hal ini penting karena jika karyawan melihat perubahan nyata dalam komunikasi, mereka mungkin salah menafsirkan maksud orang tersebut atau berasumsi bahwa mereka memiliki masalah suasana hati.
Perubahan lainnya adalah kecepatan. AI memungkinkan orang untuk merespons lebih cepat, namun kecepatan tersebut bisa tampak tiba-tiba jika konteks emosional dari pesan tersebut tidak ada. Para pemimpin mungkin percaya bahwa mereka bekerja secara efisien sementara tim mereka menafsirkan kecepatan ini sebagai tindakan berhenti. Ketika saya berbicara dengan para pemimpin tentang gangguan komunikasi, mereka sering menggambarkan situasi di mana orang-orang bereaksi keras terhadap sesuatu yang mereka anggap netral. AI memperlebar kesenjangan penafsiran ini, dan para pemimpin SDM perlu memahami mengapa momen seperti ini menjadi lebih umum.
Mengapa tim kesulitan menyeimbangkan efisiensi AI dan hubungan antarmanusia?
Getty
Mengapa tim kesulitan menyeimbangkan efisiensi AI dan hubungan antarmanusia?
Tim mencoba bekerja dalam dua mode sekaligus. Mereka didorong untuk menjadi cepat, otomatis dan terukur, serta bijaksana dan berempati. Ketegangan ini nyata. Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan perilaku menunjukkan bahwa otak manusia memproses informasi emosional melalui sistem yang lebih lambat dan lebih reflektif. Ketika tim sangat bergantung pada draf yang dihasilkan AI atau tenggat waktu yang dipercepat AI, mereka memberikan tekanan pada sistem yang lebih lambat untuk mengimbanginya. Orang-orang mulai menyaring informasi melalui asumsi, bukan rasa ingin tahu. Ketika ini terjadi, mereka mengisi kekosongan tersebut dengan ekspektasi mereka sendiri alih-alih mengklarifikasi maksud orang lain.
Ketegangan ini dapat terwujud dalam interaksi sederhana. Seorang anggota tim mungkin ragu untuk menantang sebuah ide karena mereka berasumsi bahwa AI yang menciptakannya dan yakin bahwa algoritmenya pasti benar. Ada pula yang mungkin merasa tidak nyaman meminta klarifikasi tentang apa yang ditawarkan oleh alat ini karena mereka takut hal tersebut akan memaksa mereka untuk melihat ke belakang. Ini bukanlah masalah teknologi. Ini adalah masalah persepsi. Mereka tumbuh dengan tenang sampai tim kehilangan kepercayaan pada kemampuannya berkomunikasi dalam ketidakpastian.
Apa yang dapat dilakukan para pemimpin untuk membantu tim beradaptasi dengan kolaborasi yang didukung AI?
Getty
Apa yang dapat dilakukan para pemimpin untuk membantu tim beradaptasi dengan kolaborasi yang didukung AI?
Para pemimpin dapat memulai dengan mempertimbangkan sisi interpersonal AI. Langkah pertama adalah membantu masyarakat menyadari bahwa AI mengubah cara pesan diterima, bukan hanya cara pesan dibuat. Menyediakan bahasa bagi tim untuk perubahan ini akan mengurangi kebingungan. Ketika saya berbicara dengan organisasi tentang pola komunikasi, saya sering mendengar bahwa orang-orang merasakan sesuatu yang berbeda dalam nada pesannya, namun tidak dapat mengartikulasikannya. Menyebutkan perubahan tersebut memberi mereka kesempatan untuk membicarakannya tanpa menyalahkan.
Langkah kedua adalah mendorong tim untuk mengajukan pertanyaan lanjutan lagi. Banyak tim yang menyerah dalam menguji asumsi karena mereka mengharapkan jawaban yang cepat dan kejelasan yang segera. Penelitian oleh psikolog organisasi menunjukkan bahwa pertanyaan klarifikasi mengurangi konflik, meningkatkan akurasi, dan memperkuat hubungan kerja. Di tempat kerja yang mendukung AI, hal ini menjadi lebih penting. Pertanyaan singkat seperti, “Bisakah Anda menyampaikan pemikiran di balik kalimat ini?” mencegah penyimpangan jam.
Langkah ketiga adalah tempo. Pemimpin tidak perlu memperlambat segalanya. Mereka hanya perlu memperlambat momen-momen penting. Percakapan yang bijaksana akan bermanfaat bagi pengambilan keputusan, diskusi strategi, dan perencanaan proyek awal. Ketika para pemimpin memperkirakan bahwa beberapa diskusi akan memerlukan refleksi, tim menjadi rileks dan beralih ke ritme yang lebih reflektif. Ritme ini mendukung produktivitas dan kepercayaan.
Bagaimana organisasi dapat memastikan bahwa AI meningkatkan dan bukan melemahkan dinamika tim?
Getty
Bagaimana organisasi dapat memastikan bahwa AI meningkatkan dan bukan melemahkan dinamika tim?
Organisasi dapat memandang AI sebagai bagian dari lingkungan sosial dan bukan sebagai alat yang terpisah. Tim terbaik menciptakan norma untuk menggunakan AI dalam komunikasi. Ada yang menceritakan kapan proyek itu dibuat menggunakan AI. Yang lain sepakat tentang kapan AI harus digunakan untuk bertukar pikiran dan kapan harus mengandalkan diskusi langsung. Norma-norma ini membantu tim menyelaraskan harapan dan menghindari salah tafsir satu sama lain.
Organisasi juga dapat berinvestasi dalam pelatihan yang membantu karyawan memahami bagaimana persepsi mempengaruhi kolaborasi. Menciptakan budaya rasa ingin tahu sangatlah penting. Dalam penelitian saya, saya menemukan bahwa asumsi adalah salah satu faktor yang menekan rasa ingin tahu. Penelitian menunjukkan bahwa ketika orang lebih sadar akan asumsi mereka, mereka akan mengajukan pertanyaan yang lebih baik dan menafsirkan pesan dengan lebih akurat. Hal ini mengurangi gesekan dan membuat tim tetap terhubung, bahkan ketika teknologi mempercepat laju pekerjaan.
Pemimpin yang berinvestasi pada keterampilan ini akan melihat kohesi tim yang lebih kuat, penyelesaian masalah yang lebih cepat, dan eskalasi konflik yang lebih sedikit. Mereka juga akan menciptakan lingkungan di mana AI meningkatkan kemampuan manusia dibandingkan menciptakan jarak antara orang-orang yang saling bergantung satu sama lain setiap hari.
Bagaimana seharusnya organisasi bersiap menghadapi fase berikutnya dari kerja tim yang didukung AI?
Getty
Bagaimana seharusnya organisasi bersiap menghadapi fase berikutnya dari kerja tim yang didukung AI?
Fase AI berikutnya akan sangat bersifat relasional. Tim akan berkolaborasi dengan alat AI dengan cara yang sama seperti mereka berkolaborasi dengan rekan kerja. Pergeseran ini memerlukan kebiasaan baru, norma komunikasi baru, dan pemahaman lebih dalam tentang cara orang menafsirkan sinyal dari teknologi dan sinyal dari orang lain. Tim yang dapat menavigasi dinamika relasional ini akan mengungguli tim yang hanya berfokus pada kinerja. Organisasi yang melakukan persiapan sekarang akan menciptakan tempat kerja di mana AI dapat mempercepat pemahaman, bukan mengikis kepercayaan. Mereka akan membantu karyawan tetap terhubung secara manusiawi sambil beradaptasi dengan alat yang mengubah cara kerja dilakukan. Ketika para pemimpin memperhatikan sisi interpersonal AI, mereka memperkuat hal-hal yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Mereka memperkuat hubungan yang menyatukan tim dan membantu orang memahami dunia yang berubah lebih cepat setiap tahunnya.