Kementerian Pertahanan Belanda telah mengumumkan bahwa Belanda, bersama dengan beberapa mitra NATO Eropa, tidak akan melanjutkan rencana pembelian enam pesawat Boeing E-7 Wedgetail yang dimaksudkan untuk menggantikan armada sistem peringatan dan kendali lintas udara (AWACS) Boeing E-3A yang sudah tua. Keputusan ini menyusul penarikan AS dari program penggantian AWACS pada bulan Juli, yang berdampak signifikan terhadap landasan strategis dan finansial dari inisiatif tersebut.
NATO saat ini mengoperasikan armada 14 pesawat E-3A dari pangkalannya di Geilenkirchen, Jerman, yang berfungsi sebagai kemampuan AWACS utama di Eropa. Namun, pesawat-pesawat tersebut diperkirakan akan mencapai akhir masa operasionalnya pada tahun 2035, sehingga meningkatkan kekhawatiran mengenai tingkat polusi suara. Menteri Negara Pertahanan Belanda Gijs Tuinman menggarisbawahi komitmen untuk menggunakan pesawat lain yang lebih senyap sebelum tanggal tersebut, dan menyoroti perlunya peningkatan investasi di industri pertahanan Eropa.
Pesawat AWACS, yang dilengkapi dengan radar dan sistem komunikasi modern, sangat penting bagi keamanan wilayah udara NATO dan pengendalian operasi udara. Departemen Pertahanan AS menyebutkan penundaan yang signifikan, kenaikan biaya dan kekhawatiran tentang kemampuan bertahan E-7 di lingkungan yang kontroversial sebagai alasan untuk membatalkan program tersebut, dan memilih untuk berinvestasi pada kemampuan luar angkasa dan tambahan pesawat E-2D Hawkeye.
E-3A, versi modifikasi dari Boeing 707 yang diproduksi pada tahun 1950-an, ditandai dengan kubah radar menonjol yang terletak di badan pesawat. Sebaliknya, E-7 dibangun di atas platform Boeing 737 yang lebih modern. Mengingat perkembangan ini, negara-negara NATO lainnya saat ini sedang menjajaki alternatif untuk kebutuhan AWACS mereka.
Di antara calon penggantinya, Saab GlobalEye telah muncul sebagai kandidat utama. CEO perusahaan, Mikael Johansson, pada bulan Oktober mencatat minat yang signifikan terhadap sistem GlobalEye dari berbagai negara, termasuk negara anggota NATO, Jerman dan Denmark. Sistem ini didasarkan pada radar Saab dan sensor yang dipasang pada jet bisnis jarak jauh Bombardier.
Selain itu, Dassault Aviation menawarkan versi modifikasi dari Falcon 10X untuk digunakan sebagai sistem AWACS; namun, keputusan Perancis untuk mengakuisisi GlobalEye milik Saab telah memperumit prospek proposal tersebut.
Pencarian alternatif yang layak terus berlanjut ketika negara-negara NATO menilai kemampuan pengawasan udara mereka di masa depan dengan latar belakang perubahan strategi pertahanan dan dinamika industri.