Sejak awal September, militer AS telah melancarkan serangkaian serangan terhadap kapal-kapal di Karibia dan Pasifik Timur yang menurut pemerintahan Trump terlibat dalam penyelundupan narkoba. Operasi militer ini dilaporkan telah mengakibatkan puluhan kematian, sehingga menimbulkan kekhawatiran hukum dan etika yang serius di kalangan para ahli hukum.
Pendekatan yang dilakukan militer menandai perubahan signifikan dari praktik-praktik tradisional, yang biasanya menganggap penyelundupan narkoba melalui laut sebagai masalah penegakan hukum. Penjaga Pantai, sering kali bekerja sama dengan Angkatan Laut, secara historis terlibat dalam mencegat kapal dan menangkap individu untuk diadili ketika ada bukti aktivitas ilegal.
Gedung Putih telah mengkonfirmasi keabsahan serangan tersebut, dan pemerintah mengatakan bahwa Presiden Trump telah secara efektif menyatakan konflik bersenjata resmi dengan kartel narkoba. Pernyataan-pernyataan ini menyatakan bahwa awak kapal penyelundup narkoba harus dianggap sebagai “kombatan”. Namun, pemerintah tidak memberikan landasan hukum yang kuat untuk mendukung perbandingan perdagangan narkoba dengan konflik bersenjata.
Ada banyak serangan antara tanggal 2 September dan akhir Oktober, dengan 14 serangan terpisah dilaporkan dan jumlah korban tewas 61 orang, dengan tiga orang selamat, menurut laporan yang dikumpulkan oleh The New York Times. Rincian operasi militer ini muncul terutama dari unggahan Presiden Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth di media sosial dan belum diverifikasi secara independen.
Pemogokan tersebut melibatkan beberapa operasi dalam waktu singkat. Misalnya, beberapa serangan dilakukan terhadap beberapa perahu dalam satu hari. Salah satu contoh penting adalah serangan malam hari di Karibia, yang merupakan penyimpangan dari operasi sebelumnya yang biasanya terjadi pada siang hari.
Pada satu titik, serangan tersebut dilaporkan menargetkan sebuah kapal yang diduga terkait dengan Ejército de Liberación Nacional (ELN), sebuah kelompok gerilya Kolombia, sehingga menimbulkan pertanyaan lebih lanjut tentang penerapan intervensi militer dalam memerangi penyelundupan narkoba melalui laut.
Selain itu, muncul isu kontroversial terkait dampak pemogokan. Laporan mengatakan otoritas pencarian dan penyelamatan Meksiko akan mengambil tanggung jawab untuk mengoordinasikan respons terhadap insiden yang melibatkan para penyintas, meskipun hasil spesifiknya tidak dirinci. Dalam beberapa kasus, pejabat asing telah menyatakan keprihatinannya mengenai konsekuensi dari operasi ini, termasuk kematian warga sipil yang tidak bersalah, seperti seorang nelayan, seperti yang disampaikan oleh presiden Kolombia.
Secara keseluruhan, strategi yang berkembang untuk memerangi perdagangan narkoba di Amerika Tengah melalui serangan militer tidak hanya mengintensifkan diskusi mengenai legalitas dan etika, namun juga menghidupkan kembali perdebatan tentang titik temu antara kebijakan narkoba dan tindakan militer.