Para pejabat pemerintahan Trump sedang mendiskusikan kemungkinan menyebarkan selebaran di Caracas, Venezuela, sebagai bagian dari upaya untuk melemahkan rezim Presiden Nicolas Maduro. Operasi semacam itu, yang digambarkan sebagai perang psikologis, telah dibahas oleh banyak pejabat AS dan berpotensi dilakukan pada hari Minggu, bertepatan dengan ulang tahun Maduro yang ke-63.
Taktik yang diusulkan ini konsisten dengan meningkatnya tekanan yang diberikan Amerika Serikat terhadap pemerintahan Maduro dalam beberapa bulan terakhir. Upaya-upaya tersebut mencakup peningkatan kekuatan militer di wilayah tersebut, latihan penembakan dan serangan terhadap kapal-kapal yang dicurigai membawa narkoba di Karibia dan Pasifik timur. Pendekatan multifaset ini bertujuan untuk menggoyahkan pemerintahan Maduro, yang telah lama dikecam oleh pemerintah AS.
Ketika ditanya tentang kemungkinan penempatan pasukan AS di Venezuela, Presiden Trump berkata, “Tidak, saya tidak akan mengesampingkan hal itu.” Dia menekankan komitmennya untuk menyelesaikan situasi di Venezuela, namun tidak menjelaskan secara rinci. Dalam sebuah proposal yang mengejutkan, Maduro mengisyaratkan bahwa ia bersedia terlibat dalam diskusi tatap muka dengan Trump, dan menawarkan opsi yang memungkinkan untuk melakukan pembicaraan diplomatik di tengah meningkatnya ketegangan.
Sebagai bagian dari strateginya, pemerintahan Trump sebelumnya memberi wewenang kepada CIA untuk melakukan operasi rahasia di Venezuela, yang menandakan kesiapannya untuk mengambil tindakan langsung terhadap rezim Maduro. Pentagon sangat terlibat, melakukan setidaknya 21 serangan sejak awal September yang dilaporkan menewaskan sekitar 80 orang. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menggambarkan serangan tersebut menargetkan kartel narkoba dan pengedar narkoba, meskipun Pentagon belum memberikan bukti spesifik yang menghubungkan serangan kapal tersebut dengan perdagangan narkoba.
Saat ini terdapat sekitar 15.000 tentara AS yang ditempatkan di wilayah tersebut, dengan kehadiran angkatan laut yang signifikan. Ini termasuk empat kapal perang di Atlantik barat, termasuk kapal induk modern USS Gerald R. Ford dan tiga kapal perusak berpeluru kendali. Tujuh kapal lainnya dilaporkan beroperasi di Karibia, dilengkapi untuk berbagai operasi militer. Selain itu, puluhan jet tempur AS ditempatkan di Puerto Rico sebagai persiapan menghadapi potensi eskalasi.
Maduro, yang berkuasa sejak tahun 2013, telah menghadapi kritik internasional yang intens, terutama setelah kemenangannya yang disengketakan dalam pemilihan presiden pada bulan Juli 2024, yang secara luas dianggap curang. Amerika Serikat tidak mengakui Maduro sebagai presiden sah Venezuela dan menuduhnya menjalankan kartel narkoba, serta menawarkan hadiah sebesar $50 juta bagi mereka yang memberikan informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro.
Ketika diskusi mengenai operasi selebaran dan strategi militer lainnya terus berlanjut, komunitas internasional memantau dengan cermat perkembangan lebih lanjut dalam situasi tegang ini.