Kekhawatiran atas pernyataan kontroversial mantan Presiden Donald Trump memicu tanggapan keras dari Perwakilan Maine Chellie Pingree. Trump baru-baru ini menyerukan penangkapan beberapa anggota parlemen Partai Demokrat, menuduh mereka melakukan “perilaku penghasutan” yang menurutnya “dapat dihukum mati.” Pernyataan tersebut merupakan reaksi terhadap video yang diposting oleh sekelompok anggota parlemen, sebagian besar berlatar belakang militer atau intelijen, yang meminta pejabat aktif militer dan intelijen untuk “menolak perintah ilegal.”
Dalam postingan di Truth Social, Trump menyebut kelompok itu sebagai “pengkhianat” dan mengisyaratkan bahwa mereka akan menghadapi konsekuensi hukum. Pingree mengutuk komentar mantan presiden tersebut, dengan mengatakan: “Presiden Amerika Serikat yakin dia seharusnya bisa mengeksekusi anggota Kongres. Dugaan kejahatan mereka: memposting video yang menasihati komunitas intelijen dan personel militer untuk tidak mematuhi perintah yang melanggar hukum. Ini benar-benar menjijikkan dan sangat menakutkan. Apa yang terjadi dengan ‘mengurangi retorika’?”
Pingree menyatakan keprihatinannya bahwa pemerintahan sebelumnya mendorong anggota militer untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap warga negara Amerika. Pernyataannya mencerminkan meningkatnya kekhawatiran mengenai dampak pernyataan Trump, terutama ketika ketegangan politik meningkat.
Dalam pernyataan terpisah, Wakil Jaksa Agung Todd Blanche mengindikasikan bahwa Departemen Kehakiman akan menyelidiki video yang disajikan oleh anggota parlemen, dengan menyebutnya “menjijikkan dan tidak pantas.” Sekretaris pers Gedung Putih Caroline Leavitt juga mengutarakan pendapatnya, menekankan bahwa setiap perintah dari panglima hingga personel militer aktif adalah sah. “Setiap perintah yang diberikan kepada militer Amerika Serikat oleh para panglima tertinggi dan melalui rantai komando ini, melalui menteri perang, adalah sah,” katanya, dengan alasan bahwa dorongan apa pun untuk mengabaikan rantai komando tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap protokol.
Sebagai tanggapan, enam anggota parlemen Partai Demokrat yang terlibat mengeluarkan pernyataan bersama yang menyatakan tekad mereka untuk tidak menyerah pada ancaman Trump atau penolakan pemerintah. Leavitt lebih lanjut mengklarifikasi bahwa presiden tidak ingin komentarnya dianggap harfiah, dan menegaskan bahwa usulan eksekusi bukanlah niatnya.
Kontroversi ini telah memicu perbincangan yang lebih luas mengenai keadaan wacana politik di negara tersebut, dengan banyak orang mempertanyakan retorika yang digunakan oleh tokoh-tokoh berpengaruh dan potensi implikasinya terhadap kepercayaan dan keamanan publik. Ketika situasi ini terus berkembang, implikasi dari pernyataan-pernyataan ini kemungkinan akan tetap menjadi tema utama dalam dialog nasional yang sedang berlangsung seputar akuntabilitas politik dan tanggung jawab mereka yang berkuasa.