Jakarta – 15 Oktober 2025
Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan bahwa ekonomi Amerika Serikat (AS) dan dunia menunjukkan performa yang sedikit lebih baik dibandingkan perkiraan sebelumnya. Namun, IMF juga memperingatkan bahwa risiko ekonomi global masih tetap tinggi, terutama akibat kebijakan tarif yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump.
Dalam laporan terbaru World Economic Outlook edisi Oktober 2025, IMF memproyeksikan bahwa ekonomi AS akan tumbuh sebesar 2% pada tahun 2025, meningkat sedikit dari proyeksi sebelumnya sebesar 1,9% pada Juli, dan 1,8% pada April. Untuk tahun 2026, IMF memperkirakan pertumbuhan sebesar 2,1%, naik 0,1 poin persentase dari proyeksi sebelumnya.
Namun, angka-angka ini masih menunjukkan penurunan jika dibandingkan dengan proyeksi tahun lalu. Pada Oktober 2024, IMF memperkirakan ekonomi AS akan tumbuh sebesar 2,2% pada 2025. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan tarif yang diberlakukan memiliki dampak jangka panjang terhadap ketidakpastian dan perlambatan ekonomi.
Ekonomi Global Juga Lebih Baik dari Perkiraan, Tapi Masih Rawan Guncangan
Untuk ekonomi global, IMF memperkirakan pertumbuhan 3,2% pada 2025, meningkat dari estimasi sebelumnya sebesar 3% pada bulan Juli. Sementara untuk tahun 2026, pertumbuhan global diperkirakan tetap di angka 3,1%, tidak berubah dari proyeksi sebelumnya.
Meski menunjukkan ketahanan yang cukup baik, IMF menekankan bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa ekonomi global sudah aman dari tekanan eksternal. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah ancaman tarif baru dari Presiden Trump, termasuk ancaman terbarunya untuk mengenakan tarif 100% terhadap seluruh impor dari China, yang menyebabkan pasar saham jatuh tajam pekan lalu.
Dampak Tarif Masih Jadi Beban Ekonomi
Ekonom utama IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, menyatakan dalam konferensi pers bahwa pajak impor dan ancaman tarif baru telah menciptakan ketidakpastian berkelanjutan yang membebani aktivitas bisnis global.
“Guncangan tarif benar-benar terjadi, dan ini semakin membebani prospek pertumbuhan yang sudah lemah,” kata Gourinchas.
IMF mencatat bahwa meski tarif tidak seburuk yang dikhawatirkan, efeknya tetap terasa. Banyak perusahaan masih menahan ekspansi karena ketidakpastian arah kebijakan perdagangan.
Ledakan Investasi AI Jadi Penyeimbang Dampak Tarif
Salah satu faktor yang memberikan dorongan positif bagi ekonomi AS adalah ledakan investasi di sektor kecerdasan buatan (AI). Menurut Gourinchas, lonjakan pembangunan pusat data dan investasi pada chip komputer canggih telah membantu menyeimbangkan dampak negatif dari tarif perdagangan.
Ia juga memperingatkan bahwa euforia investasi teknologi ini mengingatkan pada gelembung dot-com di akhir 1990-an. Jika terjadi ledakan dan kemudian gelembung ini pecah, maka dapat memicu perlambatan tajam dalam belanja konsumen dan investasi bisnis.
“Kalau dulu internet, sekarang adalah AI,” tambahnya.
Saham perusahaan yang aktif di sektor AI seperti AMD dan Oracle bahkan naik hingga 80% tahun ini, sebagian berkat kemitraan teknologi terbaru yang diumumkan antara keduanya.
Konsumsi Meningkat, Risiko Inflasi Mengintai
Investasi dan konsumsi yang meningkat juga membawa potensi tekanan inflasi baru. IMF menyatakan bahwa pengeluaran rumah tangga yang meningkat, sebagian besar karena efek kekayaan dari kenaikan harga saham AI, dapat mendorong bank sentral menaikkan suku bunga.
Data terbaru menunjukkan inflasi inti AS – yang tidak memasukkan harga makanan dan energi – naik menjadi 2,9%, dibandingkan 2,7% pada tahun sebelumnya. Di saat yang sama, pertumbuhan lapangan kerja mulai melambat, yang bisa jadi mencerminkan sikap hati-hati perusahaan dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Tarif Lebih Banyak Ditanggung Oleh Importir AS
Laporan IMF juga mengungkap bahwa mayoritas tarif impor AS ditanggung oleh importir dan pengecer domestik, bukan perusahaan asing sebagaimana yang diklaim oleh beberapa pejabat pemerintahan. Meskipun perusahaan-perusahaan ini masih menahan kenaikan harga kepada konsumen, IMF memperkirakan bahwa beban tarif ini pada akhirnya akan dialihkan ke masyarakat.
Beberapa perusahaan AS juga melakukan front-loading, yaitu mempercepat impor sebelum tarif diberlakukan, untuk menghindari kenaikan biaya. Selain itu, banyak negara juga tidak melakukan pembalasan, yang membantu mengurangi dampak negatif lebih lanjut terhadap sistem perdagangan global.
Namun, IMF menilai bahwa faktor-faktor ini hanya memberikan kelegaan sementara, bukan merupakan tanda kekuatan fundamental ekonomi.
Proyeksi Negara Lain: China dan Eropa
China: Bertahan, Tapi Rapuh
IMF memperkirakan ekonomi China akan tumbuh 4,8% tahun ini, tidak berubah dari proyeksi sebelumnya. Namun, ekonomi China kini makin bergantung pada ekspor, sementara sektor properti domestik masih dibebani oleh utang besar.
“Sulit membayangkan bagaimana ini bisa berkelanjutan,” ujar Gourinchas.
Zona Euro: Meningkat Berkat Belanja Militer Jerman
Untuk kawasan euro, IMF memperkirakan pertumbuhan 1,2% tahun ini, naik dari 1% pada bulan Juli. Pertumbuhan ini sebagian besar didorong oleh peningkatan belanja pemerintah di Jerman, termasuk untuk membangun kekuatan militernya.
Kesimpulan: Optimisme Berhati-hati IMF terhadap Ekonomi AS dan Global
IMF menunjukkan optimisme yang lebih besar terhadap kondisi ekonomi global dan AS, namun tetap menekankan adanya banyak risiko jangka menengah. Kebijakan tarif AS yang belum pasti, ancaman perlambatan investasi jika gelembung AI meledak, serta tekanan inflasi, semuanya berpotensi menghambat pemulihan ekonomi.
Meski ekonomi menunjukkan ketahanan sejauh ini, IMF menegaskan bahwa kekuatan ini sebagian besar bersifat sementara. Ke depan, diperlukan kebijakan ekonomi yang lebih stabil dan prediktif untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan.